Pentingnya Mental Health pada Generasi Z di Masa Sekarang
Menurut Kupperschmidt (2000) (dalam Putra, 2016) Generasi adalah sekelompok orang yang memiliki kesamaan tahun lahir, umur, lokasi dan juga pengalaman historis atau kejadian-kejadian dalam individu tersebut yang sama yang memiliki pengaruh seignifikan dalam fase pertumbuhan mereka. Dapat dikatakan, generasi merupakan sekelompok orang yang mengalami peristiwa tertentu di waktu yang sama.
Ada beberapa macam pengelompokkan generasi, seperti generasi silent generation, baby boomer, generasi X, generasi Y, dan yang termuda saat ini adalah generasi Z. Generasi Z adalah generasi yang lahir pada tahun-tahun perkembangan teknologi seperti internet dan media sosial, yaitu pada rentang tahun 1993-2005 diartikan oleh Taylor dan Keeter (2010). Generasi Z lahir dan tumbuh di dunia maya dan dunia nyata, hal ini menyebabkan generasi Z lebih peka, kreatif dan peduli terhadap sekitar.
Hellen Chou P. (2012: 35) memberikan pengertian terhadap istilah generasi Z.Generasi Z atau yang kemudian banyak dikenal dengan generasi digital merupakan generasi muda yang tumbuh dan berkembang dengan sebuah ketergantungan yang besar pada teknologi digital.
Menurut WHO, kesehatan mental didefinisikan sebagai keadaan yang baik dimana individu menyadari potensi diri mereka yang sebenarnya, bisa coping dengan stres normal dari hidup, bisa bekerja dengan produktif dan mampu memberi kontribusi pada lingkungannya. Era globalisasi telah membawa perubahan dalam banyak aspek dunia ini.
Generasi Z rentan akan kesehatan mental yang kurang baik, disebabkan stres ataupun depresi yang berlebihan, menurut penelitian American Psychological Association (APA) tahun 2018 berjudul “Stress in America Generation Z”, yang melibatkan 3500 responden berumur 18 tahun ke atas, dan 300 responden berusia 15 sampai 17 tahun. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa generasi Z adalah generasi dengan kesehatan mental paling buruk dari pada generasi-generasi lainnya.
Media massa sebagai sumber informasi sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental generasi ini,akibatnya terjadi kasus perundungan (cyberbullying), peningkatan angka bunuh diri, bahkan pelecehan seksual, entah itu sebagai pelaku ataupun korban (Steyer,2012). Bagi pelaku, perundungan ini dapat menjadi ajang pelampiasan emosi yang tak bisa disalurkan pada kehidupan nyata. Sementara korban, akan mendapat dampak yang sangat buruk dan mempengaruhi kondisi mental (emosional) yang dapat menyebabkan stres bahkan depresi.
Menurut WHO, orang memiliki jiwa yang sehat ditandai dengan merasa sehat dan bahagia. Maka dari itu, sebagai generasi Z yang rentan akan kondisi kesehatan mental yang kurang baik sebaiknya berupaya agar selalu sehat dan bahagia.
Ada beberapa cara menyiasati kondisi kesehatan mental generasi Z yang terbilang kurang baik ini, dapat berupa dukungan dan perhatian khusus dari keluarga, terutama orang tua. Selanjutnya dapat mengontrol pribadi dalam menerima informasi dengan bijak, serta berpikir positif. Serta diharapkan generasi Z lebih terbuka terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi, dan jika dirasa perlu dapat berkonsultasi dengan psikolog.
Pau Gionfriddo, president dan CEO Mental Health Americamengatakan pengobatan depresi bisa berupa konseling, mendatangi psikolog, meditasi, atau melakukan hal-hal yang menenangkan jiwa. Seperti menghirup aroma terapi. Pada umumnya aroma terapi dapat meningkatkan mood dan meneangkan pikiran, bahkan dapat disebut sebagai obat tambahan. Mengatasi stres dan depresi dapat juga dengan istirahat yang cukup, mengubah gaya hidup dan pola makan menjadi lebih baik, dan hal-hal lain yang dapat meningkatkan perasaan senang dan santai.
Yuk, jaga kesehatan mental kita untuk generasi Z yang lebih baik!
Dariku,
Alya Dhiqta Elfalah, mahasiswa Program Studi Instrumentasi
Jurusan Fisika, Fakultas MIPA
Universitas Brawijaya
Comments
Post a Comment